Sabtu, 03 April 2010

meski ODHA harus tetap semangat


Kami Tetap Semangat Walau Dipandang Miring
Tidak selamanya semangat ODHA luntur akibat terjangkit virus mematikan tersebut. Hal itu dibuktikan oleh dua ODHA, sebut saja Mawar dan Melati, yang penuh semangat memberikan kesaksian di hadapan pengunjung Atrium Kuala Kencana, Sabtu lalu.
Mawar dan Melati adalah dua wanita beda usia yang tangguh melawan derita batin akibat terjangkit virus HIV/AIDS. Sebelum Mawar memberikan kesaksian kepada semua pengunjung, banyak yang tidak tahu bahwa ibu satu anak berusia satu tahun yang mengenakan kaca mata hitam model masa kini itu adalah penderita HIV/AIDS sejak dua tahun lalu.

Dari awal acara renungan AIDS dilaksanakan, tingkah Mawar tidak sedikitpun menunjukkan bahwa tingkah wanita bertubuh sintal tersebut sebagai ODHA. Mawar dengan percaya diri mengabadikan moment-moment penting yang terjadi pada renungan tersebut dengan kamera kecil yang tak lepas dari genggaman tangannya.Hal serupa dilakukan rekannya, Melati. Mawar dan Melati duduk bersama-sama di kursi tamu. Keduanya pun berbaur dengan sesama.

Ketika Mawar dan Melati dipanggil ke panggung untuk memberikan kesaksian, tidak sedikit pun keraguan atau kesedihan terpancar dari wajah mereka. Sebaliknya, mereka selalu melempar senyum kepada peserta renungan.Mawar yang duduk di kursi sofa, tampak bersemangat seakan tak sabar menunggu pertanyaan yang diajukan pengunjung termasuk Penjabat Bupati Mimika A. Allo Rafra maupun Drs. Yoseph Yopi Kilangin yang hadir diantara undangan.

Melati yang mengenakan blus hijau dipadu celana putih tanpa kaca mata hitam, juga tampak anggun di atas pentas.
Saat-saat yang dinanti-nantikan pun tiba ketika pemandu acara Krisyanto dari Department Public Health and Malaria Control (PHMC) PTFI mengajukan pertanyaan. Bagaimana perasaan Mawar dan Melati sekarang? Dengan kompak, keduanya menjawab; biasa saja, sama seperti yang lain.

Salah satu kesaksian Mawar dan Melati yang patut direnungkan secara mendalam oleh seluruh masyarakat untuk menjauhi perilaku yang bisa menyebabkan tertular HIV/AIDS adalah: "Cukup kami, jangan yang lain."

Pertanyaan demi pertanyaan pun mengalir. Salah satunya sejak kapan keduanya tertular HIV/AIDS? Mengapa bisa tertular?
Pada kesempatan itu, Mawar menjawab bahwa dirinya tidak tahu kapan tertular penyakit yang belum ada obatnya itu. Yang jelas menurut Mawar, dirinya tertular HIV/AIDS dari teman "tidurnya" pada masa silam.Â

Hingga pertengahan tahun 2005, Mawar yang memiliki berat badan 80 kilogram, merasakan mengalami penurunan berat badan secara drastis sebesar 12 kilogram. Bobot badannya pun menjadi 68 Kg. Ketika itu, dalam benak Mawar belum tersirat bahwa dirinya terinveksi virus HIV/AIDS.

Pada akhir 2005, berat badannya kembali turun secara drastis sebesar 10 Kg. Bobot Mawar tinggal 58 Kg. Mawar pun terus bertanya-tanya. Hingga pada suatu hari, ia mendapat kabar dari kerabatnya yang mengatakan jika berat badan turun secara drastis, bisa jadi terjangkit HIV/AIDS.

Atas kebaikan kerabatnya, Mawar diajak memeriksakan kesehatannya pada dokter di salah satu rumah sakit di Jayapura, ibukota Provinsi Papua. Beberapa hari menunggu, akhirnya Mawar menerima hasil pemeriksaan medis. Petugas kesehatan menyatakan dirinya positif terjangkit HIV/AIDS.Â

"Bagaikan disambar petir," kata Mawar kepada wartawan Radar Timika sesaat setelah memberi kesaksian pada renungan HIV/AIDS Nusantara oleh PTFI tersebut.Ketakutan pun menghantui perasaan Mawar. Ia takut jika kedua orang tuanya mengetahui hasil tes tersebut. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Mawar pun memberanikan diri memberitahukan hasil pemeriksaan yang menyebutkan dirinya positif terjangkit virus HIV/AIDS tersebut kepada keluarganya.

Beruntung, setelah memberitahukannya, ketakutan akan adanya diskriminasi sampai ancaman yang mungkin datang dari keluarganya sendiri, tidak terbukti. Justru sebaliknya, pihak keluarga memberinya dukungan dan motivasi untuk hidup.
Mawar yang bekerja di kantor pemerintah ini pun optimis menjalani hidupnya. Bahkan ia tak segan-segan saat ini melanjutkan studinya guna meraih gelar master (magister) di salah satu perguruan tinggi negeri.

Setelah keluarga menerima, bagaimana perlakuan tetangga ketika mengetahui dirinya terjangkit virus HIV/AIDS? Pada awalnya, kata Mawar, perlakuan kurang mengenakkan kerap ia terima dari tetangganya, bahkan pada suatu hari anak sematawayangnya mendapat perlakuan buruk dan dijaukan dari teman-temannya.

Tapi, Mawar mengambil sisi positifnya saja, ia tetap menjalani hidup penuh optimisme. Baginya, hidup tetap berlanjut. Hujatan dan diskriminasi tidak akan mempengaruhi semangat hidupnya. "Saya tidak pusing , emangnya mereka yang kasih saya makan?" pungkasnya. "Cukup saya, jangan yang lain," tambah Mawar.

Pengalaman Melati tak kalah memprihatinkan. Ibu satu anak ini ditinggal meninggal dunia oleh suaminya sehari sebelum ia melahirkan mengatakan. Tapi sekarang Melati tegar. Perasaan yang dirasakannya kini, tidak berbeda jauh dengan perasaan sebelum tahu bahwa dirinya terjangkit virus HIV/AIDS yang menular dari suaminya.

Melati mengisahkan, awalnya sebelum menikah, dirinya tidak tahu kalau sang suami telah terjangkit virus tersebut. Akhirnya, Melati menikah dan mengandung anak. Ketika itulah Melati terkejut ketika mendapat berita bahwa suaminya terjangkit virus HIV/AIDS. "Kaget dan sedih bercampur jadi satu," ujarnya.

Melati kemudian memeriksakan darahnya di sebuah rumah sakit di Makassar pada Desember 2006. Hasil pemeriksaan darah tersebut tidak diketahuinya hingga awal 2008. Selanjutnya Melati memutuskan kembali memeriksakan diri pada VCT (Voluntary Consulling and Testing) Mimika pada April 2008. Akhirnya Melati tahu bahwa dirinya positif terjangkit virus HIV/AIDS.Â
Karena sesuai dugaannya sejak awal, Melati pun tidak kaget menerima hasil pemeriksaan VCT tersebut. Keluarga Melati maupun keluarga suaminya, menerimanya dengan penuh keihlasan tanpa adanya diskriminasi.

Kini, apakah Melati takut akan kematian? Dengan santai, ibu berusia 20 tahun tersebut menjawab, "Saya tidak takut dengan kematian, karena tanpa HIV/AIDS pun saya akan mati." Apakah Melati sakit hati tehadap suaminya? Dengan tulus Melati menjawab, "Saya tidak sakit hati atau kecewa dengan suami saya. Cukup saya yang terjangkit virus ini."Â

Mendengar kesaksian dan jawaban Mawar maupun Melati atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada keduanya, Penjabat Bupati Allo Rafra tampak tertegun. Pada kesempatan itu pun bupati diberi kesempatan mengajukan pertanyaan,Â
Pernahkan mengajak teman-teman untuk periksa? Mawar mengatakan dirinya sering mengajak teman-temannya untuk memeriksakan darah, sedangkan Melati mengatakan tidak pernah. Keduanya sama-sama berharap kelak anak-anaknya berguna bagi nusa dan bangsa. (*)Â
Penulis: MISBA LATUAPO, Radar Timika

sumber : http://www.satudunia.net/?q=content/meski-odha-hidup-harus-tetap-semangat

0 komentar:

Posting Komentar

RSS Subscribe

Labels